Komoditas energi tak bergigi

Tambang Batubara PT. Toba Bara Sejahtera Tbk di Kec. Sanga sanga,Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur . Kontan/ Febrina Ratna Iskana / 18/11/2014

PT Bestprofit | Komoditas energi tak bergigi

PT Bestprofit – JAKARTA. Pada semester I-2017, harga komoditas energi cenderung merosot. Ancaman banjir pasokan serta rendahnya permintaan mengintai komoditas ini sepanjang paruh pertama tahun ini. Tengok saja harga minyak. Harga emas hitam ini cenderung merosot. Di akhir bulan lalu, harga minyak WTI kontrak pengiriman Agustus 2017 di New York Mercantile Exchange memang menguat 2,47% ke US$ 46,04 per barel.

Namun sejak akhir tahun lalu, minyak anjlok 19,08%. Keperkasaan batubara juga mulai tergerus. Harga batubara kontrak pengiriman Agustus 2017 di ICE Futures Exchange melorot 0,39% jadi US$ 76,90 per ton Jumat lalu. Sejak akhir tahun 2016 harga sudah menukik 1,03%.

Serupa dengan dua komoditas tadi, harga gas alam pun turut melempem. Harga gas alam kontrak pengiriman Agustus 2017 di New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu melemah 0,23% ke level US$ 3,04 per mmbtu dan terkoreksi sekitar 15,1% di semester I-2017.

Fluktuasi harga komoditas energi diprediksi terus terjadi hingga akhir tahun. Berikut ulasan prospek komoditas energi hingga akhir 2017. Faktor utama yang menggerus harga minyak adalah kelebihan pasokan alias oversupply. Padahal produsen minyak anggota OPEC ditambah Rusia sudah bersepakat mengurangi produksi tahun ini.

Kebijakan ini sempat mendorong harga minyak naik ke level tertinggi sejak Juli 2015, yakni di US$ 57,4 per barel pada 6 Januari. Tetapi kenaikan harga sulit berlanjut karena Amerika Serikat (AS) meningkatkan produksi minyaknya.

Mei lalu, OPEC kembali memperpanjang pemangkasan produksi hingga 2018. Tetapi langkah ini gagal mengangkat harga. “Pasar berharap OPEC juga memperbesar kuota pemangkasan,” lanjut Putu Agus Pransuamitra, Research & Analyst Monex Investindo Futures, kemarin. Kekecewaan pasar pada OPEC menyeret minyak ke level harga terendah sejak Maret 2016, yakni di US$ 42,53 per barel, pada 21 Juni lalu.

Perkembangan kebijakan OPEC akan menjadi faktor utama penggerak harga minyak hingga akhir tahun. Di sisi lain, pasar juga akan mencermati laporan pasokan minyak mingguan AS dari Energy Information Administration (EIA). “Kisaran harga minyak hingga akhir tahun akan antara US$ 45-US$ 50 per barel,” kata Putu menganalisa.

PT Bestprofit

Comments are closed.