Redam Corona, Pemerintah Genjot Pembangunan Infrastruktur

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur di daerah demi menggerakkan perekonomian yang tengah lesu akibat virus corona. Dia menilai pemerintah harus fleksibel dalam mendukung kegiatan perekonomian.

Namun, dia menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terbatas mengharuskan sinergi pemerintah pusat dan daerah untuk mencari pendanaan lainnya. Contohnya adalah pendanaan lewat skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU)

“Pelemahan perekonomian (akibat virus corona) tentu Indonesia tidak terkecuali, tapi kami harus yakin bahwa APBN harus tetap bisa fleksibel. Dalam arti, memberi dukungan terhadap ekonomi dan kegiatan masyarakat,” ucap Suahasil, Senin (9/3).

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) Eko Heripoerwanto menyebut KPBU diperlukan karena dari total seluruh proyek yang menjadi target PUPR

2020 hingga 2024, pemerintah hanya mampu mendanai 30 persen dari total keseluruhan.  Kebutuhan pembangunan PUPR hingga 2024 yang senilai Rp2.000 triliun hanya dapat dibiayai APBN sebesar Rp600an triliun.

Sehingga, skema pendanaan KPBU dinilai tepat untuk menjawab lesunya pendanaan infrastruktur yang menjadi prioritas kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengaku keseriusan pemerintah merealisasikan skema pendanaan KPBU mulai menunjukkan hasil.

Jumlah keterlibatan swasta tercermin dari proyek-proyek jalan tol PUPR. Katanya, terdapat 58 ruas jalan tol PUPR yang dikelola oleh BUMN sementara 17 lainnya kini dikelola oleh swasta. “Proyek yang dirilis PUPR saja ada 223 proyek, penanggungjawab proyek tidak hanya PUPR tapi bisa jadi Gubernur atau Wali Kota masing-masing daerah. Saat ini pendanaan sudah berbeda dengan awal dibentuknya KPPU,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Suahasil menyatakan fleksibilitas APBN akan diterapkan Kementerian Keuangan menyusul berbagai persoalan ekonomi yang terus datang sejak awal tahun. Mulai dari perang dagang antara AS-China, merebaknya kasus virus corona, hingga penurunan harga minyak mentah dunia.

Dia menyebut pemerintah akan terus mendorong stimulus untuk menopang dunia usaha di tengah lesunya ekonomi saat ini.

Diketahui, harga minyak mentah dunia jatuh ke posisi terendah lebih dari 11 tahun terakhir pada perdagangan minggu lalu. Minyak mentah berjangka Brent terjun US$4,72 atau 9,4 persen ke posisi US$45,27 per barel.

Sementara, seperti dilansir Antara, Senin (9/3), harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$4,62 atau 10,1 persen menjadi US$41,28 per barel. Harga ini merupakan yang terendah sejak Agustus 2016 lalu.

Comments are closed.