RI Berharap Pakta IA-CEPA Diteken Maret

bestprofit— Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu) berharap perjanjian perdagangan bilateral senilai US$11,4 miliar (sekitar Rp17,3 triliun) antara Indonesia dan Australia (IA-CEPA) bisa diteken pada Maret mendatang. Padahal salah satu pertimbangan penundaan pengesahan kesepakatan itu akibat sikap Negeri Kanguru yang mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel.

“Terkait kesepakatan IA-CEPA, menteri perdagangan kedua negara masih terus membahas rencana penandatangan. Memang disebut harapannya ini bisa diteken Maret tapi masih terus dibahas,” kata Arrmanatha dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (21/2).

Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) telah digodok kedua negara lebih dari satu dekade.

IA-CEPA sebenarnya telah disepakati pada Agustus lalu, dan direncanakan akan diteken Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Scott Morrison sebelum akhir 2018.

Perjanjian itu dimaksudkan untuk meningkatkan neraca perdagangan kedua negara dalam berbagai bidang mulai dari kerajinan, agrikultur, hingga peternakan.

Akan tetapi, rencana itu molor terutama setelah relasi RI-Australia merenggang akibat sikap kontroversial Negeri Kanguru terkait Yerusalem.

Sekitar awal Desember 2018, Morrison mengumumkan secara resmi bahwa Australia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel.

Indonesia tidak setuju dengan hal itu dan menjadi salah satu negara paling vokal di kawasan yang mengecam rencana kontroversial Australia.

Tak lama setelah rencana itu diumumkan Morrison, Indonesia langsung menerbitkan pernyataan kecaman hingga memanggil duta besar Australia di Jakarta.

Kemlu RI berulang kali menyatakan keputusan Australia tersebut tak akan mempengaruhi hubungan bilateral, termasuk masa depan IA-CEPA.

“Kami sudah melihat posisi Australia, apa yang mereka sampaikan tidak berbeda dengan sebelumnya. Faktanya, sampai sekarang mereka tidak membuka kedutaannya untuk Israel di Yerusalem,” papar Arrmanatha.

Comments are closed.