Rupiah Jawara Sentuh Rp13.920 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.920 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (15/7) sore. Rupiah menguat 0,63 persen dibandingkan penutupan Jumat (12/7), yakni Rp14.008 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.970 per dolar AS atau melemah dibanding akhir pekan, yakni Rp14.085 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp13.895 hingga Rp13.994 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,01 persen, dolar Singapura menguat 0,04 persen, ringgit Malaysia menguat 0,06 persen, dan peso Filipina menguat 0,09 persen.

Kemudian, yuan China menguat 0,1 persen, baht Thailand menguat 0,15 persen, dan rupee India menguat 0,18 persen. Ini membuat rupiah jadi jawara Asia hari ini.

Hanya saja, ada beberapa mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS, seperti won Korea Selatan sebesar 0,03 persen dan dolar Hong Kong sebesar 0,05 persen.

Sementara itu, pergerakan mata uang negara maju terbilang bervariasi, di mana poundsterling Inggris melemah 0,11 persen. Namun, euro dan dolar Australia masing-masing menguat 0,01 persen dan 0,13 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan banyak sentimen yang mendorong penguatan rupiah hari ini.

Dari luar negeri, pelaku pasar masih percaya bahwa bank sentral AS The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya di akhir bulan ini. Sentimen ini mewarnai rupiah sejak Gubernur AS Jerome Powell memberikan pendapat di hadapan kongres AS pekan lalu.

Tak hanya itu, produksi industri China pada Juni lalu tumbuh 6,3 persen atau naik dari bulan sebelumnya 5 persen. “Meski memang pertumbuhan ekonomi China kuartal II hanya tumbuh 6,2 persen atau terlemah sejak 1992,” terang Ibrahim, Senin (15/7).

Sementara itu, faktor pendorong rupiah dari dalam negeri adalah rekonsiliasi antara presiden terpilih Joko Widodo dengan lawannya Prabowo Subianto yang terjadi akhir pekan lalu.

Kepercayaan investor juga kian menguat setelah Jokowi membeberkan garis besar kebijakannya di pidato Visi Indonesia Minggu (14/7) malam. “Selain itu, BPS juga mencatat surplus US$200 juta pada neraca perdagangan pada Juni,” pungkasnya.

Comments are closed.