Rupiah Terpuruk, Emas Terkerek

Bestprofit Pekanbaru – Nilai tukar rupiah sempat terpuruk ke level Rp12.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (18/6), padahal Bank Indonesia berusaha menjaga kurs berada dalam rentang Rp11.600-Rp11.700 per dolar AS. Kurs rupiah yang melemah ini berakibat terhadap harga emas di pasaran Medan yang terkerek naik dalam beberapa hari terakhir, di mana posisinya berada di kisaran Rp482.000 hingga Rp487.500 per gram, melonjak signifikan dibanding posisi pekan lalu yang hanya bermain di bawah level Rp480.000 per gram.

Analis keuangan di Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan, rupiah akhir-akhir ini memang memiliki kecenderungan meningkat. “Penyebabnya mulai dari pembayaran deviden, utang valuta asing (valas) yang jatuh tempo, ketidakstabilan kondisi politik dalam negeri menjelang Pilpres, hingga masalah impor.

Di sisi lain, rupiah kita tertekan oleh harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan akibat krisis di Irak. Harga minyak dunia jenis brent saat ini berkisar antara US$110 hingga US$115 per barel dari posisi sebelumnya di kisaran harga US$103 per barel. Kondisi tersebut memungkinkan bagi tekanan mata uang rupiah mengingat impor BBM kita sangat besar,” katanya, Rabu (18/6).

Selain itu, tekanan rupiah juga diakibatkan oleh rapat Gubernur Bank Sentral AS kemarin malam, di mana The Fed lagi-lagi diperkirakan akan mengurangi porsi stimulusnya.

Ditambahkan Gunawan, sejumlah sektor industri di dalam negeri akan mengalami kerugian akibat pelemahan rupiah tersebut, di antaranya perusahaan konsumsi yang banyak mengandalkan impor bahan baku. Selain itu perusahaan yang memiliki utang valas juga berpeluang mengalami kerugian akibat pelemahan rupiah, salah satunya adalah PLN.

Pelemahan rupiah saat ini cenderung akan mengerek harga barang impor yang nantinya akan menambah laju tekanan inflasi di dalam negeri. Kontribusi pelemahan rupiah akan tinggi bila barang-barang konsumtif seperti pangan mendominasi impor belakangan ini.

Terkait kemungkinan rupiah melemah di atas Rp12.000 per dolar AS, Gunawan menilai hal ini sangat bergantung kepada kebijakan apa yang akan diambil oleh BI untuk menstabilkannya. “Sejauh ini cadangan devisa kita masih mengalami kenaikan, ruang intervensi ada meskipun terbatas. Kalau mengandalkan ekspor untuk menjaga nilai tukar rupiah tidak akan efektif. Karena memang ekspor kita masih melempem akhir-akhir ini,” katanya.

Namun di sisi lain, kata Gunawan, mengintervensi rupiah di Rp12.000 per dolar AS juga bisa menjadi blunder bagi BI. Karena pelaku pasar kerap berasumsi bahwa rupiah masih memiliki pelemahan yang lebih dalam ketika semua sentimen baik internal dan eksternal tidak begitu baik.

Direktur Eksekutif Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan, pelemahan rupiah tersebut disebabkan dua faktor.

Tirta mengatakan, penyebab pertama jatuhnya mata uang Garuda karena hasil pertemuan The Fed yang mengeluarkan data-data lebih baik sehingga tapering akan berjalan lebih cepat, suku bunga AS pun akan lebih naik cepat.”Faktor kedua karena adanya tensi kontak bersenjata di Irak yang makin meningkat, sehingga membuat harga minyak mentah meningkat. Kemarin harga minyak sudah menyentuh US$ 107 per barel,” katanya di Jakarta.

Tetapi, katanya, hal tersebut tidak berlangsung lama, rupiah sekarang kembali menguat di bawah Rp 12.000 per dolar AS. “Ini tergantung suplai demain valuta asing,” katanya.

Harga Emas Terkerek
Sementara harga emas di pasaran Medan terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa hari terakhir menyusul menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
Dalam tiga hari terakhir, harga emas bermain pada kisaran Rp482.000 hingga Rp487.500 per gram, melonjak signifikan dibanding posisi pekan lalu yang hanya bermain di bawah level Rp480.000 per gram. “Dolar terus menguat, sehingga harga emas dunia melonjak,” kata seorang pengusaha emas di Pasar Peringgan Medan, Edy Suranta.

Pada penutupan perdagangan Rabu (18/6) sore, harga emas ditutup pada level Rp487.500 gram, melonjak signifikan dibanding sehari sebelumnya yang masih dipatok pada level Rp482.500 per gram.

Ahong, pengusaha emas di Pusat Pasar Medan, menambahkan saat ini transaksi, khususnya pembelian emas oleh masyarakat mulai melemah. “Harganya terlalu tinggi, makanya saat ini masyarakat sedikit menahan pembelian. Transaksi pun berjalan lamban,” ungkapnya.

Di lain sisi, penjualan emas oleh masyarakat pun masih minim karena masih banyak masyarakat yang bersikap menunggu hingga kepastian harga emas benar-benar stagnan pada level tertinggi. Menurutnya, jika harga emas saat ini masih bertahan hingga dua hari ke depan, akan banyak masyarakat yang berinvestasi emas yang menjual emas mereka.

(sumber:medanbisnis)

Comments are closed.