Sampoerna Tutup Pabrik, Upaya Ganti Manusia dengan Mesin?

Jakarta -Dunia usaha menganggap tingginya upah buruh di Tanah Air tanpa diimbangi adanya peningkatan produktivitas mengakibatkan mereka memilih untuk melakukan peralihan ke proses produksi berbasis mesin. Hal ini bisa terjadi pada industri rokok yang selama ini memproduksi rokok menggunakan tangan manusia dan sebagian sudah memakai mesin.Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi kepada detikFinance, Senin (19/5/2014)

Ia mengatakan, ketatnya persaingan industri jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN membuat para pengusah harus lebih selektif dalam menentukan strategi bisnisnnya, termasuk soal efisiensi.

Menurutnya, beban upah yang meningkat lebih pesat ketimbang peningkatan produktivitas membuat langkah peralihan ke proses produksi berbasis mesin sulit terelakan.

“Persaingan ketat, menuntut perusahaan harus menekan biaya produksi mereka. Kan kita tiga tahun ini dibebankan dengan tuntutan kenaikan upah buruh. Ya pengusaha kalau mau itung-itungan ya nambah lah bebannya,” kata Sofjan.

Sofjan menyayangkan aksi buruh yang belakangan semakin meresahkan para pelaku industri dengan meminta upah yang lebih tinggi.

“Di Indonesia itu gampang kalau mau naik upah, kalau di luar negeri mereka (para buruh) itu memperbaiki diri, kalau di Indonesia tinggal demo saja sudah naik upahnya. Mereka (buruh) teriak-teriak minta kerja, udah diberi kerja mereka dapat kerja malah santai-santai saja kerjanya,” kata Sofjan.

Pernyataan Sofjan sekaligus merespons rencana penutupan dua pabrik rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) PT HM Sampoerna dengan konsekuensi harus merumahkan tenaga kerja yang menggantungkan diri di dua pabrik tersebut.

“Sekarang buruh minta upah naik, tapi produktivitas nggak naik ya pengusaha nggak bisa (bertahan). Bisa-bisa tergilas mereka sama pesaing-pesaingnya. Amerika sudah pakai mesin, negara-negara lain juga udah pakai mesin,” tandasnya.

Ia menegaskan peristiwa yang dilakukan oleh Sampoerna, berpotensi disusul oleh perusahaan-perusahaan rokok lainnya.

“Saya pikir ini juga bukan Sampoerna saja. Bakal tambah banyak lagi yang seperti ini kalau buruhnya demo-demo terus. Gudang Garam dan lainnya juga bakal seperti ini. Pengusaha kan juga ada persaingan tambah ketat,” katanya.

Comments are closed.