Sri Mulyani Sebut Defisit APBN Bisa Melebar Jadi 2,5 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 mencapai 2,2 persen hingga 2,5 persen. Defisit tersebut melonjak dari target yang ditetapkan pemerintah yang hanya sebesar 1,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ia menyatakan potensi lonjakan defisit APBN 2020 terjadi karena pemerintah banyak menggelontorkan insentif fiskal sejak awal tahun. Hal ini dilakukan demi menangkal dampak penyebaran virus corona terhadap ekonomi dalam negeri.

“APBN pada 2020 memang defisitnya akan meningkat. Saat ini kami mengindikasikan defisit itu ada di dalam kisaran 2,2 persen hingga 2,5 persen. Namun kami akan lihat nanti dari sisi penerimaan maupun dari sisi belanjanya,” ungkap Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (9/3).

Pemerintah telah merilis insentif fiskal sebesar Rp10,3 triliun pada akhir Februari 2020 untuk meredam dampak virus corona pada ekonomi dalam negeri. Insentif diberikan, antara lain antara lain untuk menambah tunjangan Kartu Sembako dari Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu per bulan. Penambahan itu menghabiskan anggaran Rp4,56 triliun untuk 6 bulan ke depan.

Kemudian, pemerintah memberikan diskon tiket pesawat sebesar 30 persen ke 10 destinasi yang telah ditentukan. Dengan pemberian diskon itu, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp443,39 miliar.

Kemudian, pemerintah mengucurkan dana Rp72 miliar untuk influencer demi menarik wisatawan mancanegara. Selain itu, pemerintah juga menganggarkan dana Rp103 miliar untuk promosi dan kegiatan pariwisata sebesar Rp25 miliar.

Lalu, pemerintah juga mengucurkan dana untuk maskapai hingga biro perjalanan sebesar Rp98,5 miliar. Dengan demikian, pemerintah menganggarkan dana tambahan khusus untuk menarik wisatawan mancanegara sebesar Rp298 miliar.

Sementara, pemerintah juga berencana menerbitkan paket insentif fiskal jilid kedua dalam waktu dekat. Insentif fiskal rencananya diberikan untuk meminimalisir dampak virus corona terhadap ekspor dan impor.

“Minggu-minggu ini kan kami masih akan berkoordinasi dengan Pak Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Airlangga Hartarto) untuk melihat opsi-opsi dari stimulus yang tetap di dalam koridor membuat instrumen APBN itu bisa menjadi salah satu penolong perekonomian,” kata Sri Mulyani.

Di samping itu, Sri Mulyani bilang potensi penerimaan negara akan berkurang lantaran ada penurunan harga sejumlah komoditas di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Salah satunya harga minyak.

“Penerimaan utamanya dari sisi migas maupun penerimaan pajak yang lain pasti nanti juga mengalami tekanan kalau dari sisi komoditas harganya turun dan kegiatan ekonomi melemah,” kata Sri Mulyani.

Mengutip Antara, harga minyak mentah dunia rontok ke posisi terendah dalam lebih dari 11 tahun terakhir pada perdagangan akhir pekan lalu. Minyak mentah berjangka Brent turun US$4,72 atau 9,4 persen ke posisi US$45,27 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$4,62 atau 10,1 persen menjadi US$41,28 per barel. Harga ini merupakan yang terendah sejak Agustus 2016 lalu.

Comments are closed.