Studi: Keampuhan Berbagai Vaksin Lawan Corona Varian Delta

Varian baru virus corona SARS-COV-2 dari India dilaporkan telah ditemukan di Indonesia. Pemerintah mengimbau masyarakat mewaspadai varian virus penyebab Covid-19 tersebut.

Varian India dikenal sebagai B.1.617.2 atau Delta. Varian itu pertama kali terdeteksi di India pada Desember 2020 dan kini telah menyebar ke lebih dari 60 negara.

Sejumlah pihak telah melakukan studi terkait dengan varian itu. Salah satu studi fokus pada keampuhan vaksin dalam melawan varian tersebut.

 

Melansir BHF, sebuah studi yang diterbitkan oleh Public Health England (PHE) pada 22 Mei menunjukkan bahwa, dua minggu setelah dosis kedua, vaksin Pfizer 88 persen efektif dalam mencegah kasus gejala Covid yang disebabkan oleh varian Delta.

Studi yang sama menunjukkan bahwa, tiga minggu setelah dosis tunggal, efektivitas kedua vaksin hanya 33 persen terhadap varian Delta. Sehingga, seseorang sangat penting untuk menerima dosis kedua.

Dalam studi yang sama, vaksin Oxford/ AstraZeneca 60 persen efektif dalam mencegah kasus gejala Covid yang disebabkan oleh varian Delta, dua minggu setelah dosis kedua.

Penelitian yang dilakukan antara 5 April dan 6 Mei 2020 menunjukkan kedua vaksin itu 33 persen efektif melawan varian tiga minggu setelah dosis pertama.

Berdasarkan bukti awal, varian Delta memiliki beberapa mutasi penting yang mungkin membuatnya lebih berbahaya. Misalnya, mutasi L452R yang dapat membantu virus lolos dari respons imun, termasuk antibodi (yang menempel pada virus untuk membantu menetralkannya), dan sel imun (yang membantu menyerang virus dan sel yang terinfeksi secara langsung).

Ada juga beberapa bukti yang dapat mempengaruhi seberapa baik virus mengikat reseptor ACE2 di permukaan sel manusia. Karena itu adalah langkah penting dalam virus masuk ke sel manusia, mutasi itu berpotensi membuatnya lebih menular.

Kemudian ada mutasi P681R yang juga ditemukan dalam varian lain, termasuk strain Inggris. Mutasi itu diperkirakan membuat virus lebih mudah menular.

Lalu ada mutasi E484Q, yang serupa dengan mutasi E484K yang pertama kali diidentifikasi dalam varian Beta (Afrika Selatan). Ada bukti bahwa mutasi itu dapat membantu virus lolos dari respons imun.

Melansir WebMD, belum ada studi kemanjuan vaksin laon seperti Moderna atau Johnson & Johnson terhadap vadian Delta. Penasihat medis Gedung Putih, Anthony Fauci meyakini vaksin Moderna akan sama efektifnya dengan suntikan Pfizer.

“Jika Anda mendapatkan dosis pertama Anda, pastikan untuk mendapatkan dosis kedua itu,” ujar Fauci.

Di India, varian Delta dianggap berada di balik lonjakan infeksi mematikan kedua. Varian tersebut tampaknya menyebabkan gejala yang sangat parah, kata para ilmuwan.

Beberapa gejala pada pasien yang terinfeksi varian Delta antara lain sakit perut, mual, muntah , kehilangan nafsu makan, gangguan pendengaran, dan nyeri sendi.

Ganesh Manudhane, ahli jantung di Mumbai mengatakan beberapa pasien mengalami pembekuan darah yang sangat parah sehingga menyebabkan gangrene.

Korban tewas di India lebih dari 6.000 orang pada hari Kamis (10/6), rekor tertinggi harian dunia. India juga jadi negara kedua di dunia dengan kasus Covid-19 yang paling banyak dilaporkan dengan lebih dari 29 juta kasus di belakang Amerika Serikat yang sudah di atas 33 juta kasus.

Comments are closed.