Suku bunga AS naik, Wall Street tertekan

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S., December 5, 2016. REUTERS/Brendan McDermid

 

Best Profit | Suku bunga AS naik, Wall Street tertekan

 

Best Profit – NEW YORK. Pasar saham AS bergerak liar pada transaksi perdagangan Rabu. Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 118,68 poin atau 0,6% menjadi 19.792,53. Saham Caterpillar menjadi saham dengan penurunan terdalam. Sedangkan Goldman Sachs menjadi saham dengan kenaikan tertinggi.

Indeks S&P 500 turun 14,62 poin atau 0,81% menjadi 2.253,28. Sektor energi menjadi sektor dengan penurunan terdalam di antara seluruh sektor yang ada. Adapun indeks Nasdaq composite turun 0,5% menjadi 5.436,67. Dalam setiap lima saham yang turun, hanya terdapat satu saham yang naik di New York Stock Exchange. Volume transaksi rata-rata melibatkan 1,045 miliar saham dan volume transaksi gabungan mencapai 4,31 miliar pada penutupan market.

Wall Street tertekan setelah The Federal Reserve memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan untuk kedua kalinya dalam satu dekade terakhir. Apa yang terjadi di sini adalah tidak ada pihak yang memprediksi kenaikan suku bunga ketiga dalam prediksi bank sentral. Tidak ada data yang mendukung hal itu,” jelas Tom Siomades, head of Hartford Funds Investment Consulting Group.

Sekadar informasi, The Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan kisaran target suku bunga acuannya dari sebelumnya 0,25% – 0,5% menjadi 0,5% – 0,75%. Suku bunga acuan semalam saat ini berada di level 0,41%. Komite ini juga menyetujui kenaikan suku bunga kredit primer dari 1% menjadi 1,25%.

FOMC juga mengindikasikan kenaikan suku bunga ke depannya. Bank sentral AS tersebut saat ini memprediksi adanya tiga kali kenaikan suku bunga acuan pada 2017, dua atau tiga di 2018, dan tiga kali di 2019.

Tak hanya itu, The Fed juga menambah satu kali kenaikan suku bunga lagi dari seluruh periode tersebut. Sehingga, target suku bunga jangka panjang mereka dinaikkan menjadi 3% dari sebelumnya 2,9%.

Jika nantinya ada stimulus yang besar, maka hal ini akan menciptakan tekanan inflasi dan The Fed harus melawannya dengan menaikkan suku bunga. Belum jelas seberapa besar stimulus yang akan digelontorkan dan bagaimana dampak yang ditimbulkan. The Fed masih meraba-raba tentang hal ini sebagaimana yang kita alami,” urai Luke Bartholomew, investment manager Aberdeen Asset Management.

Best Profit

Comments are closed.