Posts Tagged ‘2015 Bakal Jadi Tahun yang Krusial Buat Emas – BESTPROFIT PEKANBARU’

Minyak Dunia Menguat Hampir 3 Persen

Harga minyak naik hampir 3 persen pada penutupan perdagangan Senin (2/11) waktu AS atau Selasa (3/11) pagi WIB, rebound dari pelemahan yang terjadi karena kekhawatiran meningkatnya kasus virus corona beberapa hari belakangan kemarin.

Mengutip Antara, Selasa (3/11), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari menguat US$1,03 atau 2,7 persen ke US$38,97. Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember menguat US$1,02 atau 2,9 persen ke level US$36,81 per barel.

Kedua kontrak sebenarnya sempat tertekan lebih dari US$2 di awal sesi. Tetapi, minyak berbalik naik didorong data pabrik di Asia dan Amerika Serikat yang kuat.

 

Aktivitas manufaktur AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada Oktober, dengan pesanan baru melonjak ke level tertinggi dalam hampir 17 tahun.

Pasar minyak sempat berada di bawah tekanan akibat peningkatan kekhawatiran pasar atas penurunan permintaan bahan bakar di beberapa negara Eropa akibat kebijakan lockdown yang diterapkan demi mengatasi penyebaran virus corona.

Kebijakan diterapkan setelah kasus infeksi di AS dan sejumlah negara menembus rekor harian. Itu membuat pasar khawatir pemulihan permintaan minyak dunia yang diharapkan bakal terganjal.

“Kekhawatiran atas pasokan minyak dan fundamental permintaan akan memainkan peran kedua setelah pemilihan presiden AS dan bagaimana pasar-pasar risiko akan bereaksi terhadap hasilnya,” kata analis BNP Paribas Harry Tchilinguirian.

Perusahaan dan analis perdagangan minyak global Vitol memperkirakan lockdown akan memicu kehancuran permintaan minyak lebih. Pasalnya, sejumlah negara telah menerapkan kembali langkah-langkah penguncian untuk mencoba memperlambat tingkat infeksi covid-19.

Vitol memperkirakan permintaan musim dingin hanya mencapai 96 juta barel per hari (bph). Sementara perusahaan perdagangan komoditas Trafigura memperkirakan permintaan turun menjadi 92 juta barel per hari atau lebih rendah.

Rystad Energy melihat permintaan baru akan pulih pada 2028 dan melihat pemulihan yang lebih lambat tahun depan.

“Penguncian akan menghambat pemulihan ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang serta pandemi juga akan meninggalkan warisan perubahan perilaku yang juga akan mempengaruhi penggunaan minyak,” kata Artyom Tchen dari Rystad Energy.

Produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) naik untuk bulan keempat pada Oktober, sebuah survei Reuters menemukan.

Di tengah sentimen itu, OPEC dan sekutunya termasuk Rusia memangkas produksi sekitar 7,7 juta barel per hari untuk mendukung harga. Kelompok OPEC+ ini dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan pada 30 November dan 1 Desember, dengan beberapa analis memperkirakan penundaan rencana untuk meningkatkan produksi sebesar dua juta barel per hari mulai Januari.

Manajer puncak perusahaan minyak Rusia dan Menteri Energi Rusia Alexander Novak pada Senin (2/11) membahas kemungkinan perpanjangan pembatasan produksi minyak hingga kuartal pertama 2021, dua sumber industri mengatakan.

Listrik Padam, MRT Beroperasi Normal

Operasional Moda Raya Terpadu (MRT) tidak terganggu dan tetap beroperasi normal saat pemadaman listrik di beberapa wilayah DKI Jakarta, Minggu (1/11).

Namun, sempat terjadi penurunan tegangan (dip) pada sejumlah stasiun perlintasan kereta imbas pemadaman listrik.

“Beberapa stasiun yang mengalami penurunan tegangan listrik sedang dalam penormalan,” kata Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta, Muhammad Kamaluddin, di Jakarta.

Penormalan beberapa fasilitas di dalam lingkungan stasiun yang terkena dampak penurunan tegangan listrik telah berhasil dilakukan pada pukul 14.55 WIB.

Sehubungan dengan pemadaman aliran listrik PLN di beberapa wilayah Jakarta dan sekitarnya, Kamaluddin memastikan bahwa layanan kereta MRT Jakarta tetap beroperasi secara normal.

“Layanan kereta tetap berjalan dengan normal,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh VP Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba.

Menurut Anne, pemadaman listrik tersebut tak sampai mengganggu operasional kereta api listrik (KRL).

“Iya (tidak mengganggu operasional KRL), sampai saat ini normal,” ucap Anne.

Pemadaman listrik di sebagian wilayah DKI Jakarta dan Bekasi dipicu oleh gangguan sejumlah Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (Sutet) saat terjadi hujan deras disertai petir.

“Hujan deras disertai petir yang terjadi di daerah Jakarta dan sekitarnya, menyebabkan sejumlah Sutet mengalami gangguan pada pukul 12.58 WIB,” kata SRM General Affairs PLN UID Jakarta Raya Emir Muhaimin.

 

Untuk wilayah Jakarta, kata Emir, pemadaman listrik terjadi di wilayah Kota Jakarta Timur, Jakarta Selatan; Tebet, Mampang, Kebayoran, Jakarta Utara; Kemayoran, Angke, dan Jakarta Pusat; Kemayoran.

Kerusakan Sutet terjadi di sambungan Depok-Cibinong, Sutet Cibatu, Sutet Cawang, Sutet Tambun-Bekasi, dan Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitet) Cibinong.

Pilihan Saham Aman Kala Pasar Dihantui Tren Koreksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup tertekan pada penutupan pekan pertama September di level 5.239 atau terkoreksi 2 persen sepanjang perdagangan pekan lalu.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony memprediksikan tren negatif masih akan terjadi pada perdagangan pekan ini. Pasalnya, belum ada katalis pendongkrak pasar.

Rilis data perkonomian pun tak menggembirakan. Lihat saja rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menunjukkan pertumbuhan negatif atau deflasi dua bulan belakangan.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi pada Juli 2020 sebesar minus 0,10 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), lanjut deflasi pada Agustus sebesar 0,05 persen.

Selain itu, Chris menilai koreksi juga dipicu oleh kondisi pasar yang telah mencapai titik jenuh beli (overbought). Sehingga, kemungkinan akan terjadi pembalikan arah gerak.

“Indonesia masih mencatatkan deflasi, serta teknikal koreksi di mana IHSG cenderung naik sejak April. Sehingga wajar saja jika September ini mengalami koreksi,” katanya kepaca

Senin (7/9).

Setali tiga uang, sentimen global yang juga tengah dirundung ‘mendung’. Pada penutupan perdagangan minggu lalu, saham-saham utama Wall Street seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq ditutup merah. Investor mulai menjual saham karena valuasi dinilai terlalu tinggi.

Untuk diketahui, Indeks Nasdaq naik lebih dari 80 persen sejak posisi terendah pada Maret 2020, sedangkan indeks S&P 500 serta Dow Jones juga telah naik lebih dari 60 persen.

“Juga, dilihat dari data tenaga kerja AS yang cenderung di bawah prediksi sehingga menyebabkan aksi profit taking (ambil untung) di pasar belakangan ini,” lanjut Chris.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pelaku pasar untuk ekstra hati-hati. Sebaiknya, hindari saham-saham yang tak memiliki rekor baik.

Amannya, pantau saham-saham yang memiliki kinerja baik atau bluechip. Pasalnya, saham-saham yang berkinerja baik lah yang bakal bertahan di kala rawan koreksi.

 

 

“Hati-hati dengan perusahaan yang mempunyai kinerja kurang baik dan sedang dalam fase turun. Sebaiknya dihindari terlebih dahulu. Manfaat kesempatan September ini untuk kembali rebalancing portofolio,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan jika terjadi koreksi wajar pada perusahaan berkapitalisasi besar, keadaan dapat dijadikan kesempatan untuk akumulasi beli.

Selain itu, Chris menilai perusahaan yang bergerak di lini usaha kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menarik untuk diperhatikan. Lantaran, CPO tengah naik harga.

Sepanjang 2020, berbagai perusahaan CPO berhasil mencetak laba melebihi tahun sebelumnya.

Ia memperkirakan, sepanjang tahun ini, emiten CPO berpeluang mendulang untung. Salah satunya, PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP).

Pada kuartal I 2020, LSIP mencatatkan kenaikan laba bersih meski kinerja penjualan turun cukup signifikan. Peningkatan laba bersih ditopang penurunan beban, kenaikan rata-rata harga jual kelapa sawit, serta selisih kurs.

Penjualan LSIP tercatat sebesar Rp810,01 miliar, turun 12,7 persen pada kuartal I 2020 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Penurunan penjualan ini seiring

dengan pengurangan produksi dan volume jual yang dialami perusahaan sepanjang kuartal I 2020.

Sementara, laba bersih perusahaan melonjak 109,8 persen dari Rp38,62 miliar pada kuartal I 2019 menjadi Rp81,04 miliar pada kuartal I 2020.

Untuk jangka pendek, ia merekomendasikan beli dengan target harga Rp1.200 dari harga penutupan Jumat lalu di level 1.040.

Saham-saham kelas dua (second liner) lainnya yang menurut Chris menarik layak untuk dipantau adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), dan PT Bank Bukopin Tbk (BBKP). Tapi, ia tak menetapkan harga target terhadap emiten-emiten tersebut.

“(Saham-saham) ini masih cenderung menarik sekali karena trennya yang masih naik. Serta dibantu dengan prospek yang baik kedepannya,” katanya.

Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menyebut volatilitas indeks pekan ini cukup tinggi. Sementara para pelaku saham mencari alternatif transaksi.

Ia mengatakan perusahaan yang bergerak di sektor komoditas dapat dijadikan pilihan. Karena, harga komoditas seperti nikel, timah, baja, platinum, perak, dan CPO tengah mengalami kenaikan.

Selain itu, dia juga merekomendasikan perusahaan di sektor pertambangan seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Untuk ADRO, ia menargetkan di posisi 1.265. Sedangkan, untuk PTBA, target dibanderol di level 2.205. Ada pun ITMG direkomendasikan jual di posisi area 8.925.

1 2 3 4