Posts Tagged ‘bestprofitfutures pekanbaru’

Polling: 61 Persen Pembaca Tolak Iuran BPJS Kesehatan Naik

Pemerintah sepakat menaikkan iuran BPJS Kesehatan. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) beberapa waktu lalu mengatakan kesepakatan untuk menaikkan iuran tersebut telah dibahas dan disepakati dalam rapat internal bersama dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Senin (29/7) lalu.

“Prinsipnya, kami setuju. Namun, perlu pembahasan lebih lanjut. Pertama, kami setuju untuk menaikkan iuran,” ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Selasa (30/7) lalu.

JK belum mau membuka, berapa besaran kenaikan yang akan dilakukan. Cuma, pihak Istana Kepresidenan menyatakan kenaikan tarif iuran program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan akan berlaku untuk semua kelas.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan kenaikan tarif iuran semua kelas tersebut dilakukan karena tarif saat ini sudah tidak ideal lagi. Pasalnya, jumlah iuran yang tidak sesuai dengan beban biaya yang harus dibayarkan oleh perusahaan peralihan PT Asuransi Kesehatan (Persero) alias Askes itu.

“Semua kelas (akan naik), karena jumlah urunan dengan beban yang dihadapi BPJS tidak seimbang, sangat jauh. Maka, kami pahami sangat wajar iuran dinaikkan,” ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (6/8).

Lebih lanjut, menurutnya, kenaikan iuran bagi semua kelas juga tidak bisa terelakkan karena biaya kesehatan mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

“Sehat itu mahal, kalau sehat murah, orang nanti semua menyerahkan ke BPJS Kesehatan, mati nanti BPJS,” katanya.

Kendati begitu, ia belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut terkait finalisasi tarif baru iuran BPJS Kesehatan. Sebab, ia mengatakan kajian masih terus dilakukan oleh Kementerian Keuangan. Bila kajian sudah selesai, barulah perhitungannya dipaparkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Walaupun masih rencana, kenaikan iuran iuran tersebut mendapatkan banyak penolakan. Dari hasil polling yang CNNIndonesia.com yang diikuti oleh 1.122 pembaca pada Rabu (7/8) ini, sebanyak 61 persen di antaranya tidak menyetujui kenaikan iuran BPJS Kesehatan.

Artinya, kenaikan hanya disetujui oleh 39 persen  pembaca. Mereka yang menolak salah satunya beralasan bahwa sebelum opsi kenaikan iuran dilakukan, pemerintah seharusnya memperbaiki manajemen BPJS Kesehatan.

Kadin Sebut Blockchain Bakal Pangkas Biaya Logistik

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut blockchain dapat menurunkan biaya logistik di Indonesia. Teknologi itu akan membuat proses pengiriman logistik lebih transparan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Logistik dan Supply Chain Rico Rustombi mengatakan bila proses logistik di Indonesia transparan, maka pungutan liar (pungli) yang biasanya terjadi bisa diminimalkan dan dihilangkan.

“Kalau menggunakan blockchain yang terhubung pada seluruh logistik di dunia tidak pusing kami, semua transparan, tidak ada pungutan liar dan semua terekam dari semua mata rantainya,” papar Rico, Senin (29/7).

Selama ini, ia mengklaim proses logistik di Indonesia belum menguntungkan bagi pengusaha. Masalahnya, regulasi dan infrastrukturnya di pelabuhan belum siap.

“Itu terjadi dan didiamkan, mau tidak mau ya harus dibenahi secara ekstrem. Ya sudah terapkan teknologi yang mahir atau maju,” terang dia.

Saat ini, blockchain memang belum diatur oleh pemerintah. Rico menyebut pelaku usaha masih terus berdiskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan, seperti pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Ia berharap ada aturan resmi yang dikeluarkan agar penerapan blockchain bisa semakin marak di dalam negeri. Selain itu, ada standar pula yang diatur oleh pemerintah dalam hal implementasi blockchain.

Saat ini, beberapa perusahaan logistik sudah menerapkan sistem blockchain. Salah satunya adalah PT Samudera Dewata Logistik.

Rico yang juga menjabat sebagai salah satu pimpinan di perusahaan itu menyatakan sudah menerapkan blockchain sejak tahun lalu. Hanya saja, penerapannya belum maksimal.

“Sejak tahun lalu, kami menggunakan dan kami pikir sudah mulai harus kick off, apalagi dalam sistem logistik dan rantai pasoknya,” tuturnya.

Ia menambahkan perusahaan sedang mengembangkan aplikasi e-logistik dalam mendistribusikan dan pengemasan barang. Namun, Samudera Dewata Logistik belum merumuskan pembayaran menggunakan mata uang cryptocurrency.

“Ini tidak mudah dan butuh waktu. Jadi, masih menggunakan konvensional pembayarannya,” pungkasnya.

Semester I 2019, Laba Bersih BCA Naik 12 Persen Jadi Rp12,9 T

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp12,9 triliun hingga semester I 2019. Angka ini melonjak 12,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp11,4 triliun.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan pertumbuhan laba bersih membaik dibanding tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 8,4 persen. Perbaikan dipicu pendapatan operasional yang tumbuh 16,1 persen, atau lebih besar dibanding pertumbuhan beban yang hanya 9,1 persen.

Jika dirinci, pendapatan operasional BCA sepanjang paruh pertama 2019 sebesar Rp34,24 triliun. Angka itu terdiri dari, pendapatan bunga bersih sebesar Rp24,63 trilun dan pendapatan non-bunga sebesar Rp9,61 triliun.

“Pendapatan bunga bersih tumbuh 13,1 persen sementara pendapatan lain malah tumbuh 24,5 persen secara year-on-year,” jelas Jahja, Rabu (24/7).

Namun, menurutnya, pertumbuhan pendapatan bunga bersih terjadi di tengah penyaluran kredit perusahaan yang melambat. Sampai semester I 2019, perusahaan mencatat penyaluran kredit sebesar Rp565,23 triliun atau bertumbuh 11,5 persen dibanding tahun kemarin yakni Rp551,15 triliun. Pertumbuhan ini melandai dibanding tahun lalu yakni 14,2 persen.

Jahja mengatakan melambatnya pertumbuhan kredit disebabkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 175 basis poin tahun lalu membuat bunga kredit meningkat. Sementara itu, kredit konsumsi seperti Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan kartu kredit sangat sensitif dengan perubahan bunga.

Hal ini terkonfirmasi dari data perusahaan, di mana penyaluran KKB sebesar Rp48,19 triliun ternyata malah melemah 1,5 persen dibanding tahun sebelumnya yakni Rp48,91 triliun. Padahal, KKB perusahaan di tahun lalu tumbuh 8,1 persen.

Sementara itu, penyaluran kartu kredit sebesar Rp13,07 triliun ternyata hanya tumbuh 6 persen dibanding tahun lalu Rp12,89 triliun. Padahal, pertumbuhan kartu kredit di tahun lalu mencapai 10,8 persen.

Hal ini mempengaruhi penyaluran kredit BCA meski penyaluran KKB dan kartu kredit tercatat Rp61,26 triliun atau 10,83 persen dari total penyaluran kredit BCA. “Kredit konsumsi ini sangat interest sensitive, tapi setidaknya kami masih membukukan pertumbuhan kredit yang dua digit,” tutur dia.

Meski pertumbuhan kredit melambat, namun laba masih bisa selamat setelah BCA bisa memperbaiki marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM). Hingga semester I tahun ini, BCA mencatat NIM sebesar 6,24 persen atau meningkat dibanding tahun lalu yakni 6,19 persen.

Ini terjadi karena BCA bisa menekan biaya pendanaan (cost of fund) karena masih mengandalkan dana murah sebagai sumber Dana Pihak Ketiga (DPK). Hingga semester I 2019, dana murah dalam bentuk Current Account Savings Account (CASA) sebesar Rp510,41 triliun mengambil 75,7 persen dari total DPK BCA sebesar Rp673,87 triliun.

“Meski demikian, kami juga mencatat kenaikan DPK dalam bentuk deposito sebesar 18 persen dibanding tahun kemarin. Namun, deposito ini tidak akan berpengaruh ke cost of fund karena kami tidak memiliki special rate deposito,” pungkas dia.

1 2 3 68