Posts Tagged ‘bpf pekanbaru news’

Gunung Carstensz,Tempat Pendaki Andika Pratama Meninggal.

PT.BestProfit – Berita duka baru datang dari meninggalnya pendaki Andika Pratama di Gunung Carstensz di Papua. Gunung tertinggi di Indonesia ini memang penuh tantangan.

Dirangkum detikTravel, Senin (5/11/2018) Gunung Carstensz memiliki ketinggian 4.884 mdpl dengan medan menuju puncaknya dipenuhi bebatuan curam. Gunung Carstensz masuk ke dalam kawasan Pegunungan Tengah di Papua. detikTravel pun pernah mendaki sampai ke puncaknya tahun 2015 silam.Untuk bisa mendaki Gunung Carstensz, dibutuhkan fisik yang kuat dan biaya yang tidak sedikit. Perlu traveler ketahui nih, puncak di Gunung Carstenz sangat sempit dan hanya bisa menampung maksimal 10 orang pendaki saja.

Baca Juga:
Black Box Lion Air JT 610 Ditemukan di Kedalaman 30 Meter

Telah banyak pendaki yang mencoba menahlukan jalur pendakian Gunung Carstensz. Beragam cerita mewarnai perjalanan untuk sampai ke puncak.

Melewati jalur tambang Freeport, bertemu dengan Suku Moni di Desa Ugimba yang hidup dalam ketertinggalan dan keterbatasan, bisa bertemu dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sampai memasuki alam rimba Papua yang penuh kejutan.Kejutan-kejutan yang bisa kamu temukan di gunung ini seperti kisah sungai sedingin es karena berasal dari puncak bersalju di Pegunungan Jayawijaya. Hutan-hutan perawan dengan akar-akar besar, lumut super tebal karena tidak pernah terjamah manusia. Begitupun dengan fauna seperti kuskus dan kanguru pohon asli Papua. Tak ada sinyal seluler di sana.Penjelajahan hutan rimba dari ketinggian 2.100 mdpl, akhirnya menembus 4.000 mdpl. Hutan berganti pegunungan batu nyaris tanpa vegetasi. Tiada manusia lain, kecuali para pendaki, makanya tidak heran jika ingin menahlukan gunung ini butuh kesiapan mental yang lebih. Tidak boleh patah semangat!

Tidak hanya dikenal di Indonesia saja, Gunung Carstensz juga terkenal di dunia. Gunung ini masuk ke dalam salah satu Seven Summits di dunia dan puncak tersulit ketiga di dunia. Gunung Carstensz berada di urutan ketiga setelah Gunung Everest dan Denali.

Kalau dibandingkan dengan Puncak Everest di Nepal dan Puncak Denali di Alaska, kedua puncak tersebut kesulitannya berupa suhu yang ekstrem. Di Puncak Denali saja, suhunya bisa mencapai minus 40 derajat Celcius!Namun berbeda dengan gunung di Papua ini, kesulitannya justru lebih kompleks. Pertama, berupa jalur pendakian yang panjang yang mana pendaki akan melewati hutan lebat yang berbukit terlebih dulu. Jika mau naik ke atas juga butuh kemampuan panjat tebing.

Baca Juga:LION AIR Tenggelam, KRI SIKUDA TNI AL Mencari Bagian Badan Lion Air PK-LQT
Selain itu, butuh kehati-hatian yang lebih saat mendaki karena kamu akan berhadapan dengan lempengan bebatuan yang tajam seperti karang sampai puncak.

Butuh biaya berapa untuk mendaki Gunung Carstensz? Rata-rata operator tur pendakian di Indonesia, menawarkan harga sampai Rp 50 juta untuk mendaki Puncak Carstensz. Sedangkan operator tur pendakian di luar negeri bisa sampai 27 ribu Dollar (setara Rp 447 juta).

Harga tinggi itu dikarenakan susahnya akses menuju ke sana. Belum ada transportasi, konektivitas jalan dan harga barang-barang juga mahal. (sym/fay)

Australia Didesak Tiru Prancis Perbolehkan Karyawan Sumbangkan Jatah Cuti

indexJakarta – Seorang ibu yang anaknya didiagnosa menderita leukemia akut mendesak pemerintah Australia meniru aturan hukum di Perancis yang memungkinkan karyawan dermawan menyumbangkan jatah cuti kepada rekan-rekannya yang memiliki anak penderita sakit parah.

Parlemen Perancis bulan lalu mengesahkan aturan tersebut atas inisiatif anggota parlemen dari Loire, Paul Salen pada tahun 2011. Solen terinspirasi dari kisah nyata mengenai itikad baik terhadap seorang ayah yang menerima sumbangan cuti berminggu-minggu dari rekan kerjanya agar bisa selama mungkin menemani anaknya yang sakit parah.

Di bagian dunia lainnya, seorang ibu di New South Wales, Sonja Malcolm berusaha keras mengimbangi kebutuhan bagi anaknya yang tengah berjuang melawan penyakit leukemia akut dengan kebutuhan keuangan keluarganya.

Empat pekan setelah berurusan dengan kabar yang ‘menyeramkan &rsquo kalau nyawa anaknya terancam oleh leukemia, dia harus kembali bekerja.

“Saya bekerja pada program TAFE, saya bekerja penuh waktu namun status saya adalah karyawan casualalias paruh waktu,” katanya.

TAFE adalah institusi pendidikan semacam akademi atau politeknik milik pemerintah yang menyelenggarakan program pendidikan praktis atau kejuruan dengan kualifikasi Certificate (1, 11, III, & IV), Diploma, dan Advanced Diploma.

“Sebagai tenaga paruh waktu, saya tidak bisa mengumpulkan jatah hari libur. Saya hanya mendapat jatah cuti sakit. Dan jika saya tidak bekerja, saya tidak mendapat bayaran,” tambahnya.

Keluarga Sonja Malcolm menerima santunan karir sebesar AUD$114 per dua pekan, namun jumlah itu tidak mencukupi untuk biaya parkir di rumah sakit menemani anaknya.

Malcolm mengatakan dia menerima banyak tawaran cuti dari rekan kerjanya, namun tentu saja tawaran itu tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu ia berharap Australia bisa mengadopsi aturan serupa mengenai donasi cuti yang dibayarkan antar karyawan seperti yang baru diberlakukan di Perancis.

“Beberapa teman saya yang sudah bekerja diinstitusi saya sejak lama, mereka mengatakan saya punya kumpulan jatah cuti berbayar selama berbulan-bulan. Jika diperbolehkan saya tidak keberatan untuk memberikannya kepada kamu,” tuturnya.

“Ini merupakan solusi yang sederhana. Dan sangat masuk akal dan begitulah cara agar sesame karyawan bisa saling membantu,” tambahnya.

“Dan aturan ini sangat mungkin untuk dilakukan di sebuah organisasi, karena tidak ada konsekwensi apapun kecuali masalah administrasi saja,” katanya.

Liam saat ini sudah mendapat keringanan atau remisi namun Malcolm, yang juga merupakan relawan di lembaga donasi The Cure Our Kids Charity, prihatin memikirkan nasib banyak keluarga lain yang mengalami hal serupa dengan dirinya yang masih kesulitan.

Oleh karena itu ia yakin jika Australia memperkenalkan skema yang sama maka sambutannya akan sangat besar.

“Saya kira salah satu hikmah dalam menghadapi situasi yang sulit seperti ini adalah kemampuan orang untuk tergerak hatinya dan melakukan sesuatu demi bisa membantu orang lain,” katanya.

Sangat mungkin diterapkan di Australia

John Dugas, dosen manajemen sumber daya manusia di Universitas Newcastle di New South Wales mengatakan upaya mengundang-undangkan sumbangan cuti antar karyawan merupakan sesuatu yang sangat progresif.

“Banyak sekali perkembangan menarik terjadi di Perancis, untuk mencoba dan mendapatkan keseimbangan kerja-kehidupan yang lebih baik, “katanya.

“Dan kecenderungan yang sama sebenarnya juga terjadi di Australia. Disini dimungkinkan untuk mengganti jatah cuti tahunan dengan uang, dan ini sama kategorinya dengan mendonasikan jatah cuti. Katakan saja seorang pekerja berkata, saya siap melepaskan jatah cuti saya, dan menghadiahkannya kepada kolega saya,” katanya.

Dugas mengatakan skema tersebut memang terkesan murah hati, namun implementasinya harus sangat hati-hati. Salah satunya adalah dengan mendefinisikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sakit parah.

Jika berhasil dilaksanakan, Dugas menilai maka kedermawanan pekerja itu tidak tertutup kemungkinan akan ikut memberi manfaat bagi lembaga tempat kerjanya.
;
“Perusahaan berpotensi menuai hal-hal yang sangat positif untuk reputasinya tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu banyak,” katanya

“Sudah pasti perusahaan itu akan mendapati kalau aturan itu adalah hal yang sangat positif bagi reputasi perusahaannya dan tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar,” katanya.

Kementerian Tenaga Kerja sudah dihubungi untuk komentar lanjutan.

Mathys law

Sementara itu di Perancis seorang karyawan bernama Christopher Germain, ketika puteranya yang berusia Sembilan tahun didiagnosa menderita kanker hati, rekan-rekan kerjanya di perusahaan air minum mineral Badoit mengumpulkan sumbangan untuk membantunya.

Namun sumbangan itu sangat sulit dilupakan, tidak hanya sumbangan dalam bentuk uang yang mereka donasikan untuk Germain, tapi atas seijin bos mereka, rekan kerjanya juga ikut menyumbangkan jatah cuti mereka kepada Germain.

Nyawa Mathys akhirnya memang tidak ;tertolong, namun orang tuanya akhirnya mendirikan yayasan ;bernama D’un papillon a une etoile.

Dengan dukungan dari anggota parlemen Perancis, ;Salen, yayasan itu mengkampanyekan perubahan aturan, yang memungkinkan para pekerja di Perancis memberikan jatah cuti mereka kepada orang tua yang anaknya menderita sakit keras.

“Tindakan ini bertujuan untuk memungkinkan orang tua yang memiliki anak yang sedang sakit dan sekarat, untuk memanfaatkan kedermawanan rekan kerjanya, pada saat-saat yang memilukan dalam hidupnya.” tulis pesan di situs yayasan tersebut.

UU Mathys loi ini kemudian disahkan oleh senat Perancis pada 31 April 2014 lalu. ; Orang tua Mathys’ menyambut baik putusan itu dan menilanya sebagai kemenangan atas perjuangan selama 3,5 tahun yang penuh kecemasan dan harapan.