Posts Tagged ‘PT Best Profit Future’

Virus Corona, Pemerintah akan Diskon Pajak Maskapai dan Hotel

Pemerintah bakal memberikan insentif pajak untuk biro perjalanan, maskapai penerbangan, hotel, dan restoran untuk meredam dampak wabah virus corona terhadap ekonomi domestik. Harapannya, insentif itu bisa membuat pengusaha memberikan harga yang lebih murah kepada konsumen.

“Kami harapkan dengan diberikan itu (insentif) mereka bisa berikan diskon,” ungkap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Senin (24/2).

Namun, pemerintah tak membuat aturan mengenai minimal diskon yang diberikan kepada konsumen. Wishnutama bilang hal itu diputuskan sendiri oleh masing-masing perusahaan.

“Misalnya begini, ada insentif pajak ke hotel tapi hotelnya sendiri nanti punya pertimbangan sendiri. Kami tidak bisa menentukan hotelnya memberikan diskon berapa,” kata dia.

Nantinya, pemerintah akan membuat insentif untuk satu paket penerbangan. Namun, ini hanya untuk rute-rute tertentu yang dipilih oleh pemerintah.

Beberapa rute yang dimaksud, seperti Yogyakarta, Belitung, Malang, Bali, Manado, dan Bintan. Menurut Wishnutama, kawasan itu kerap menjadi tujuan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

“Besok rencananya pukul 13.30 kami akan ke presiden untuk meminta persetujuan,” terang Wishnutama.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bakal memberikan diskon tiket pesawat sebesar 30 persen untuk wisatawan domestik dan 50 persen untuk biro perjalanan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku masih akan memfinalisasi keinginan kepala negara tersebut. Ia membenarkan diskon diberikan untuk merangsang industri pariwisata yang terpukul karena virus corona.

Diketahui, virus corona mulai mewabah di Provinsi Hubei, China pada Desember 2019. Virus ini menyebar ke berbagai negara hingga membuat negara dan maskapai menghentikan penerbangan dari dan ke China.

Respons Isu Telkomsel, Indosat Sebut Tak Sulit Gaet Netflix

Vice President Head of Digital Lifestyle Indosat Ooredoo, Rasyefki Sultani mengatakan kerjasama dengan perusahaan penyedia layanan over-the-top (OTT) sebetulnya tidak begitu sulit.

Hal itu ia sampaikan merespons polemik antara layanan video streaming Netflix dengan Telkomsel yang belum mencapai kata sepakat.

“Sebenarnya kalau kerjasama dengan Indosat itu, bukan sesuatu yang sulit. Kita selama ini menjaga hubungan baik dengan semua layanan OTT,” kata Rasyefki saat acara Kemitraan Strategis HOOQ & IM3 Ooredoo di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (27/1).

Menurut Rasyefki, biasanya kerjasama dengan layanan video-on-demand terkait pembukaan akses.

“Kalau dilihat beberapa operator lain yang sudah bekerjasama, mungkin bentuknya terkait pembukaan akses. Di Indosat pun seperti itu,” pungkasnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate telah meminta PT Telkom Indonesia (Persero) dan Netflix bisa duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ‘pemblokiran’ layanan film streaming itu.

Menurut Johnny, pemblokiran itu masuk ke ranah hubungan  antar bisnis (business to business) yang memperhitungkan keuntungan dan kerugian perusahaan.

“Kami harapkan agar Telkom dan Netflix bisa dapat segera diselesaikan secara bisnis to bisnis,” kata Johnny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/1).

Johnny sesungguhnya tidak setuju dengan penggunaan kata ‘blokir’. Pasalnya pemblokiran tersebut adalah urusan snis. Ia percaya tanpa saran pun, pihak Telkom dan Netflix akan membicarakan urusan bisnis ini.

 

 

Beberapa waktu lalu, Johnny juga mengatakan pemblokiran salah satu layanan media streaming digital Netflix yang dilakukan Telkom adalah persoalan bisnis sehingga pihaknya tak memiliki wewenang untuk terlibat lebih jauh.

Lebih Pilih Kerjasama dengan Video Streaming

Lebih lanjut, Rasyefki mengatakan pihaknya lebih memilih untuk bekerjasama dengan layanan video streaming dibanding membuat layanan serupa. Sebab menurut Rasyefki, untuk membuat sebuah layanan video-on-demand itu butuh cost atau biaya yang banyak.

“Kita kalau mau bikin aplikasi atau layanan itu pasti ada cost [biaya] untuk buat aplikasinya. Yang kedua ada cost untuk isinya misal film, itu tidak efisien dari sisi cost,” kata dia.

“Belum tentu yang kita dapatkan akan seimbang. Lebih baik kita kerjasama dengan yang sudah menyediakan, yang memang ahli di situ. Kita perusahaan telekomunikasi tidak ahli untuk melihat film,” sambung Rasyefki.

Selain itu, Indosat menilai saat ini sudah ada berbagai macam layanan video-on-demand. Maka pihaknya pun urung untuk membuat layanan sendiri.

Kendati demikian, Rasyefki mengaku belum ada pembicaraan soal akan melakukan kerjasama strategis dengan Netflix.

“Kalau Netflix dari sisi Indosat, kita tidak menghalangi untuk mengakses Netflix. Masih bisa menonton tapi dari sisi pembayaran belum bisa pakai potong pulsa. Kalau kerjasama lebih erat seperti strategis, untuk saat ini belum,” pungkas Rasyefki.

Sebelumnya, Telkomsel telah lebih dulu berkecimpung di pasar layanan video-on-demand dengan meluncurkan aplikasi MAXstream pada 2016 lalu.

MAXstream menawarkan ribuan film dan serial TV dari berbagai saluran. Ada tiga kategori saluran yang bisa diakses, yakni Channel Lokal, Channel Basic, dan Channel Premium.

Dengan aplikasi MAXstream, pelanggan juga dapat menikmati paket berlangganan menarik dari VideoMAX, seperti HOOQ, VIU, CATCHPLAY, dan Nickelodeon Play.

PGN Yakin Bangun 700 Ribu Jaringan Gas Rumah Tangga di 2020

PT Perusahaan Gas Negara (PGN) optimistis dapat membangun jaringan gas (jargas) sebanyak 700 ribu sambungan rumah (SR) pada tahun ini. Sebanyak 266 ribu SR diantaranya berasal dari penugasan Kementerian ESDM dengan anggaran Rp3 triliun.

Selain anggaran dari pemerintah, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Redy Ferryanto mengungkapkan pemerintah akan menggelontorkan investasi untuk mencapai target 700 ribu pembangunan jargas.

“Pembangunan jargas target dari Kementerian ESDM yang diberikan kepada kami itu 10 juta sambungan sampai tahun 2024. Tahun ini kami akan selesaikan sekitar 700 ribu sambungan, yang terdiri dari APBN sekitar 266 ribu, dan sisanya adalah program mandiri yang diinvestasikan oleh PGN,” kata Redy di kantor Pusat PGN, Jakarta, Selasa (21/1).

Per Desember 2019, PGN sendiri telah menyalurkan gas bumi kurang lebih sebanyak 3 ribu BBTUD untuk melayani lebih dari 359 ribu pelanggan di 63 kota atau kabupaten.

Kini, panjang dari infrastruktur pipa gas bumi yang telah dibangun pun mencapai lebih dari 10.500 kilometer (km).

Redy menyatakan pihaknya akan terus meningkatkan pemanfaatan gas bumi secara masif untuk dapat memenuhi kebutuhan energi domestik yang semakin meningkat. Selain itu, pihaknya juga akan berusaha berperan maksimal dalam mengurangi defisit neraca migas.

Perusahaan, lanjut Redi, juga telah memfokuskan target pengembangan infrastruktur gas 2020 pada pembangunan terminal LNG dan LNG filling di Teluk Lamong. Hal itu dilakukan untuk membuka akses penyelesaian transmisi di kawasan Jawa Timur.

“Target pengembangan infrastruktur gas untuk 2020 akan difokuskan untuk pembangunan terminal LNG dengan kapasitas 40 BBTUD dan LNG filling dengan kapasitas 10 BBTUD di Teluk Lamong agar bisa menjangkau wilayah baru di Jawa Timur, penyelesaian transmisi Gresik hingga Semarang, dan pengembangan infrastruktur distribusi di Sumatera dan Jawa,” jelasnya.

Sementara, Redy juga mengatakan akan terus melakukan pengembangan jargas rumah tangga di 49 wilayah kota atau kabupaten.

“Serta gasifikasi kilang minyak, terutama Kilang Cilacap, dan Kilang Balikpapan,” tuturnya.

Selain itu, perusahaan juga akan mengembangkan bisnis-bisnis baru dengan harapan dapat lebih meningkatkan volume gas.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso kemudian meminta dukungan dari pemerintah untuk memperlancar seluruh program kerja perusahaan ke depannya.

“Dukungan dari pemerintah dan seluruh stakeholder diperlukan untuk mencapai target-target ini,” pungkas Gigih.

1 2 3 19