Posts Tagged ‘pt best profit futures pekanbaru’

Sepanjang Pekan Lalu, Minyak Tertekan Kelebihan Pasokan

PT.Bestprofit – Harga minyak mentah dunia merosot sepanjang pekan lalu. Tekanan harga minyak mentah dipicu oleh kekhawatiran terhadap melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dunia di tengah membanjirnya pasokan global.

Dilansir dari Reuters, Senin (31/12), harga minyak mentah berjangka Brent merosot tiga persen menjadi US$52,2 per barel secara mingguan. Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga merosot hampir 0,4 persen menjadi US$45,33 per barel.

Kedua harga acuan telah menurun selama tiga pekan berturut-turut. Pada Jumat (28/12) lalu, harga minyak mentah dunia sedikit menajak.

Pelaku pasar menilai penguatan dipicu oleh reli di pasar modal AS. Sebagai catatan, harga minyak bergerak paralel dengan kinerja pasar saham. Keduanya mengalami perdagangan yang bergejolak sepanjang pekan lalu.

Pada awal pekan lalu, harga minyak mentah sempat tertekan ke level terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Tahun ini, harga minyak dunia telah merosot lebih dari 20 persen akibat kenaikan pasokan.

Di AS, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah menurun sebesar 46 ribu barel pada pekan yang berakhir 21 Desember 2018. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan para analis yang mengira stok minyak AS bakal menurun 2,9 juta barel.

Sementara, stok bensin AS naik 3 juta barel, jauh di atas perkiraan analis yang hanya berkisar 28 ribu barel.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch menilai data terbaru stok AS gagal mendorong lebih banyak ketertarikan pelaku pasar untuk melakukan aksi beli. “Kendati demikian, kami melihat data tersebut sebagai pendukung harga dengan kenaikan pasokan bensin sebesar 3 juta barel,” ujarnya.

Perusahaan layanan energi Baker Hughes mencatat perusahaan minyak AS menambah dua rig pada pekan yang berakhir 28 Desember 2018. Penambahan rig merupakan indikasi produksi di masa mendatang.

AS telah menanjak menjadi produsen minyak terbesar di dunia tahun ini dengan produksi mencapai 11,6 juta barel per hari (bph). Angka produksi tersebut melampaui Arab Saudi dan Rusia yang angka produksinya juga menyentuh rekor tertinggi untuk tahun ini.

Karenanya, bulan ini, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia sepakat untuk memangkas produksinya sebesar 1,2 juta bph atau setara dengan 1 persen konsumsi global. Pemangkasan tersebut akan berlaku mulai Januari 2019.

Pada Kamis (27/12) lalu, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan Rusia akan memangkas produksinya sekitar tiga juta hingga lima juta ton pada paruh pertama 2019 sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.

Novak juga menilai kesepakatan dengan OPEC juga dilatarbelakangi oleh keputusan AS memberikan pengecualian terhadap sejumlah negara terkait pemberlakuan sanksi Iran. Sebelumnya, AS memberlakukan sanksi terhadap ekspor perminyakan Iran mulai November lalu.

Data pemerintah dan pelacakan pengiriman mencatat impor minyak mentah Iran oleh sejumlah negara konsumen utama di Asia pada November lalu tertekan ke level terendah untuk lebih dari lima tahun terakhir.

PVMBG Masih Dalami Kaitan Letusan Anak Krakatau dan Tsunami

PT.Bestprofit – Ahli ekologi dan evolusi Gunung Krakatau dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Tukirin menjelaskan kemungkinan penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda karena longsoran bawah laut dan gelombang pasang.

Tukirin saat dihubungi di Jakarta, Minggu (23/12), sependapat dengan yang dikemukakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa longsor di tebing bawah laut menyebabkan tsunami kecil di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam.

Tukirin sebagai ahli yang mempelajari perkembangan kehidupan Gunung Anak Krakatau itu, menjelaskan bahwa gunung yang terus tumbuh tersebut menimbun material vulkanik di bagian atas sehingga menyebabkan dinding yang terjal di bagian bawah gunung.

Tebing bawah laut yang semakin terjal di bagian bawah Gunung Anak Krakatau bisa terjadi longsor apabila ada getaran kuat akibat aktivitas vulkanik, yang mungkin juga ditambah dengan hempasan gelombang arus laut.

“Saya punya pengalaman sedang di darat, di Gunung Anak Krakatau, kemudian terjadi getaran karena aktivitas vulkanik, getaran saja. Itu dinding Anak Krakatau yang setinggi 400 meter itu longsor, sampai ke laut. Tapi tidak menimbulkan tsunami, karena itu kan di darat,” kata dia.

Menurut Tukirin, tsunami yang terjadi hanya karena longsoran tebing bawah laut biasanya tidak menimbulkan gelombang besar.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Kendati demikian, katanya, tingginya gelombang tsunami juga dipengaruhi seberapa besar material yang runtuh.

Tsunami yang terjadi di Selat Sunda juga dipengaruhi kondisi pasang air laut yang disebabkan gravitasi bulan saat terjadi purnama.

“Mungkin di samping getaran itu juga ada pasang laut perbani pada bulan purnama. Sehingga air laut naik, ditambah itu (longsoran, red.), terjadilah gelombang yang cukup besar,” kata dia.

Ekonom Sebut BI Berani Tahan Bunga karena Rupiah Stabil

PT.Bestprofit — Ekonom menilai keberanian Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate didukung oleh stabilitas nilai tukar rupiah yang terjadi selama beberapa waktu terakhir.

Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan BI7DRRR di level 6 persen. Keputusan itu berlawanan dengan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) yang mengerek suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,25-2,5 persen pada Kamis dini hari (20/12), waktu Indonesia.

“Walaupun kemarin ada defisit transaksi berjalan yang cukup besar, rupiah masih bisa bertahan di level yang sekarang jadi BI tak melihat ada kekhawatiran yang berlebihan terhadap efek defisit transaksi berjalan,” ujar Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/12).

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Transaksi berjalan Indonesia dihantam oleh defisit neraca perdagangan yang kian melebar. Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 mengalami defisit sebesar US$2,05 miliar, melebar dari Oktober 2018 yang mencapai US$1,82 miliar.

Sementara, secara kumulatif Januari-November 2018, defisit perdagangan telah mencapai US$7,52 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, neraca dagang masih surplus US$12,02 miliar.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat stabil di bawah level Rp14.500 per dolar AS, setelah pada Oktober lalu tertekan hingga menembus level Rp15 ribu per dolar AS.

Ditahannya BI7DRRR, lanjut Lana, sesuai dengan ekspektasi pasar. Terlebih, bulan lalu, secara tak terduga BI mengerek suku bunganya sebesar 25 bps di saat The Fed menahan suku bunganya. Sepanjang tahun, BI juga telah mengerek suku bunganya hingga 175 bps dari posisi Januari 4,25 persen.

“175 bps kan sudah cukup kuat tetapi belum kelihatan hasil yang nyata. Barangkali BI melihat ini sudah cukup sambil melihat efek dari (kenaikan) 175 bps tadi,” ujarnya.

Senada dengan Lana, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam juga menilai keputusan BI menahan suku bunganya karena melihat pergerakan rupiah yang relatif stabil. Stabilitas itu terjadi meski defisit neraca dagang melebar yang menodai kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

“Ada keyakinan BI, jika menahan suku bunga tidak akan menimbulkan gejolak yang besar. Kalaupun ada gejolak, mungkin BI sudah memprediksi tidak akan terjadi berkepanjangan,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan BI juga konsisten dengan arah kebijakan yang antisipatif dan mendahului (ahead the curve).

Sinyal kebijakan moneter AS tahun depan diperkirakan tidak akan seagresif perkiraan semula. Kenaikan suku bunga AS tadinya diperkirakan terjadi sebanyak tiga kali. Namun, dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal bulan ini, kenaikan diperkirakan hanya akan terjadi dua kali.

Dengan menahan suku bunga, BI memiliki waktu dan ruang yang lebih luas tahun depan jika The Fed mengerek suku bunganya.

“Berbeda kalau seandainya BI menaikkan suku bunganya saat ini jadi 6,25 persen. Nanti kalau tahun depan harus menaikkan lagi mungkin terlalu besar kenaikkannya dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan.,” ujarnya.

1 2 3 70