Posts Tagged ‘PT Best Profit Futures’

IHSG Melesat 1,54 Persen ke Level 6.176

PT.Bestprofit – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada hari ini, Rabu (19/12), di level 6.176 atau naik 1,54 persen (94,22 poin).

RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp11,41 triliun dengan volume 19,8 miliar saham. Sementara, perdagangan hari ini investor asing tercatat jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp176,18 miliar.

Pada penutupan kali ini, 231 saham bergerak menguat, sedangkan 166 turun, dan 125 lainnya tidak bergerak. Kemudian, sembilan dari 10 indeks sektoral menguat khususnya sektor barang dan konsumsi yang naik 2,82 persen.

Sementara, RTI Infokom menunjukkan nilai tukar rupiah pada pukul 16.10 WIB naik 0,48 persen di level Rp14.442 per dolar AS. Sejak pagi hingga sore ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp14.355-Rp14.511 per dolar AS.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Dari Asia, mayoritas indeks saham bergerak menguat Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 di Jepang turun 0,6 persen, indeks Kospi di Korsel naik sebesar 0,81 persen, dan indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,2 persen.

Sore ini, mayoritas indeks saham di Eropa bergerak menguat sejak dibuka tadi siang. Indeks FTSE100 di Inggris bergerak naik 0,37 persen, indeks DAX di Jerman bergerak naik 0,19 persen, dan indeks CAC All-Tredable di Perancis naik 0,18 persen.

Permintaan Batu Bara Diramal ‘Mandek’ Sampai Tahun 2023

PT.Bestprofit – Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan memasuki periode stagnasi hingga 2023. Pada periode tersebut, permintaan akan tumbuh di sejumlah negara tetapi akan turun di negara lain.

Direktur Pasar dan Keamanan Energi IEA Keisuke Sadamori mengungkapkan tahun depan permintaan batu bara secara umum masih akan tumbuh seperti tahun lalu yang hanya sebesar satu persen. Kondisi itu diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2023.

Permintaan batu bara tumbuh kuat di India, Korea, dan Asia Tenggara (Indonesia, Vietnam, Malaysia, Filipina). Batu bara masih menjadi pilihan karena tersedia dengan harga yang relatif murah dibandingkan sumber energi primer lain, terutama untuk ketenagalistrikan.

Khusus untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pertumbuhan permintaan akan berkisar lima persen per tahun hingga 2023.

mendorong konsumsi di beberapa negara di Asia Tenggara,” ujar Sadamori dalam peluncuran laporan IEA Coal Forecast to 2023 di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Selasa (18/12).

Di sisi lain, permintaan batu bara di Eropa dan Amerika Utara menurun karena kebijakan terkait kualitas udara dan iklim yang memicu peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan. Secara global, IEA memperkirakan kontribusi batu bara pada bauran energi global bakal menurun dari 27 persen pada 2027 menjadi 23 persen pada 2023.

Pilihan redaksi

http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

“Menurunnya biaya energi terbarukan dan banyaknya pasokan gas alam memberikan tekanan pada batu bara,” ujar Sadamor.

Kondisi itu juga terlihat di China yang merupakan konsumen dari hampir separuh produksi batu bara dunia. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas udara membatasi permintaan batu bara China dalam lima tahun ke depan yang diperkirakan bakal menurun sekitar tiga persen.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Sumber Daya Mineral, Batu bara dan Listrik Boy Garibaldi Thohir menilai proyeksi bisnis batu bara masih positif tahun depan. Hal itu didukung oleh meningkatnya permintaan dari India, dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Positifnya permintaan batu bara di Indonesia tak lepas dari upaya percepatan pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan pembangkit listrik. Mengingat harga batu bara yang relatif murah dan cadangannya banyak tersedia di Indonesia, emas hitam masih menjadi sumber energi primer andalan.

“Indonesia bukan hanya butuh listrik yang murah, tapi juga andal. Pemanfaatan batubara dalam negeri,atauPLTU merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi bangsa,” ujarnya

Efek Defisit Dagang Reda, Rupiah Kokoh Rp14.580 per Dolar AS

PT.Bestprofit — Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.558 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa pagi (18/12). Posisi ini menguat 22 poin atau 0,15 persen dari Senin sore (17/12) di level Rp14.580 per dolar AS, karena sentimen defisit neraca perdagangan mereda.

Di kawasan Asia, rupiah berada di zona hijau bersama mayoritas mata uang lain, seperti peso Filipina yang menguat 0,2 persen, baht Thailand 0,15 persen, won Korea Selatan 0,14 persen, yen Jepang 0,04 persen, dan dolar Singapura 0,03 persen.

Pilihan redaksi

http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Hanya dolar Hong Kong yang melemah 0,03 persen dari dolar AS, sementara ringgit Malaysia stagnan dari mata uang Negeri Paman Sam.

Sedangkan mata uang utama negara maju justru bergerak lebih variatif. Dolar Kanada melemah 0,06 persen dan poundsterling Inggris minus 0,05 persen. Namun, dolar Australia, rubel Rusia, dan euro Eropa bersandar di zona hijau dengan menguat masing-masing 0,17 persen, 0,16 persen, dan 0,01 persen. Hanya frans Swiss yang stagnan dari dolar AS.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan menguat lebih tinggi pada hari ini, karena sentimen positif dari eksternal yang melemahkan dolar AS diperkirakan masih akan berlanjut.

Sentimen tersebut, yaitu antisipasi pasar terhadap pengumuman hasil rapat dewan gubernur bank sentral AS, Federal Reserve pada Kamis mendatang (20/12). Selain itu, masih ada kekhawatiran dari pasar bahwa ekononi global akan melambat tahun depan.

Sementara itu, sentimen negatif dari dalam negeri berupa buruknya rilis neraca perdagangan diperkirakan bakal mereda hari ini.

“Diharapkan kondisi ini membuat rupiah dapat mengambil kesempatan untuk kembali menguat,” ujarnya, Selasa (18/12).

Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia kembali dirundung defisit sebesar US$2,05 miliar secara bulanan pada November 2018. Sementara secara tahun berjalan, defisit sudah mencapai US$7,52 miliar sejak Januari-November 2018.

1 2 3 174