Posts Tagged ‘PT Best Profit’

Insentif Mobil Listrik Diharap Bikin Kesenjangan Harga Turun

Pemerintah berharap sejumlah insentif yang diberikan untuk industri kendaraan listrik akan menurunkan kesenjangan antara harga mobil listrik dan mobil konvensional. Selisih yang semula mencapai 40 persen didorong turun menjadi hanya 10 persen-15 persen.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan salah satu insentif yang diberikan berupa Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) bagi pemilik mobil listrik. Beleid akan lebih rinci dijelaskan dalam Peraturan Presiden (PP).

“Untuk PPnBM perlu ada revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013. Kami masih menunggu revisi itu. Teknisnya ada di PP,” ucap Airlangga, Kamis (15/8).

Diketahui, saat ini aturan kendaraan listrik tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Sementara itu, untuk aturan PPnBM diatur dalam PP Nomor 41 Tahun 2013 tentang Kelompok Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Selain insentif PPnBM, pemerintah juga akan memberikan insentif lain, seperti bea masuk impor mesin, pembebasan atau pengurangan pajak pusat dan daerah. Bahkan, adapula bea masuk yang ditanggung pemerintah atas impor bahan baku dan bahan penolong.

Kemudian, pemerintah akan memberikan insentif nonfiskal. Namun, Airlangga belum merinci kemudahan apa saja yang akan diberikan bagi pengguna mobil listrik.

“Lalu untuk di daerah juga bekerja sama dengan gubernur, saya sudah bicara dengan Gubernur DKI Jakarta dan Bali. Jadi daerah itu untuk pilot project (penggunaan mobil listrik),” ujarnya.

Hanya saja, ia lagi-lagi urung menjelaskan detail insentif yang akan diberikan melalui pemerintah daerah (pemda). Ia hanya memberikan contoh di Finlandia dan Norwegia, di mana mobil listrik diberikan keistimewaan untuk masuk jalur bus.

“Jadi insentif mobil listrik macam-macam,” pungkas dia.

Oli Mesin Tidak Digunakan Dalam Waktu Lama

Pelumas mesin merupakan cairan yang tidak digunakan untuk waktu lama. Idealnya oli mobil harus diganti saat jarak tempuh sudah menyentuh angka 5.000 kilometer- 10.000 kilometer. Sebagai patokan kita bisa melihat pada buku servis sebagai pedoman mencari waktu yang tepat mengganti oli.

Dalam buku servis biasanya tertulis waktu yang dianjurkan untuk mengganti oli mesin. Namun, Pendiri Forum Komunikasi Klub dan Komunitas Otomotif Indonesia (FK3O) M Wahab S mengatakan sebaiknya pemilik kendaraan tidak berdasarkan kilometer sebagai acuan penggantian oli, tetapi durasi penggunaan kendaraan.

“Mengganti oli itu bukan hanya jarak, tapi juga waktu atau berapa jam kita gunakan mobil dalam satu hari (dikalikan per bulan),” kata Wahab ditemui di sela acara Castrol, Rabu (7/8).

Misal jika kita melakukan pergantian setiap jarak tempuh 10.000 kilometer, atau setiap enam bulan sekali, maka yang dipilih mana yang tercapai lebih dulu.

Menurut Wahab ada juga istilah running engine hour, atau mesin mobil terus bekerja dalam kondisi macet atau atau stop and go.

Untuk kasus satu ini mesin lebih ‘stres’ karena terus memikul beban. Dengan kondisi seperti itu seharusnya pemilik mobil tidak menjadikan jarak tempuh sebagai patokan mengganti pelumas mesin.

“Contohnya kalau mobil stop and go, mobil sering berhenti, itu mesin kan tetap bekerja. Artinya kalau ganti misal harus 5.000 ya, kita harus turunkan patokannya,” ucap dia.

Faktor cuaca dan Lingkungan

Cuaca menentukan waktu ideal pergantian pelumas mobil. Menurutnya semakin cuaca panas berdampak pada kinerja mesin. Jika kendaraan sering melalui kawasan dengan suhu dingin atau sekitar 20 derajat, pelumas pasti akan lebih awet. Dalam hal ini kita tidak perlu ganti pelumas tepat waktu.

“Atau suhu udara misalnya dipakai kondisi mencapai 40 derajat, dan suhu dingin misalnya 20 derajat, tentu akan beda. Atau keadaan jalanan berdebu, akan beda dengan pemakaian yg kondisi jalan yang tidak debu,” tutup Wahab.

Lampu Mati, PLN ‘Murahkan’ Tagihan Listrik Agustus

PT PLN (Persero) menyatakan akan memberikan kompensasi ke masyarakat atas gangguan listrik yang terjadi pada Minggu (4/8) dan Senin (5/8) kemarin. Kompensasi akan dilakukan dengan memotong atau mengurangi tagihan listrik Agustus.

Jumlah pelanggan yang mendapatkan pemotongan tagihan tersebut mencapai 22 juta. Direktorat PLN Regional Bagian Jawa Barat Haryanto WS mengatakan besaran pengurangan tagihan akan diberikan sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terikat dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PT PLN.

Dalam Pasal 6 aturan tersebut diatur bahwa besaran pemotongan tagihan diberikan secara tidak sama. Untuk  konsumen pada golongan tarif yang dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik atau masyarakat mampu, pengurangan tagihan listrik kepada konsumen diberikan sebesar 35 persen dari biaya beban atau rekening minimum.

Untuk konsumen pada golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik atau keluarga kurang mampu, pengurangan tagihan sebesar 20 persen dari biaya beban atau rekening minimum.

Untuk konsumen pada tarif listrik prabayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan pada konsumen untuk tarif listrik reguler dengan daya tersambung yang sama.

“Insyaallah nanti akan langsung dikompensasi itu pada rekening Agustus yang akan dibayar September jadi jumlah pelanggan tidak kurang dari 22 juta pelanggan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (6/8).

Ia mengatakan untuk mengurangi tagihan listrik 22 juta pelanggan tersebut, PLN akan menggelontorkan anggaran Rp865 miliar. Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Djoko Raharjo Abumanan mengatakan anggaran untuk membayar kompensasi tersebut nantinya akan diambilkan dari pemotongan bonus pegawai PLN.

“Di PLN ada namanya IKS, kalau di luar namanya bonus. Nah bonus kerjanya terkoreksi, saya biasanya dapat 100 persen (sekarang) bawa pulangnya terkoreksi. Jadi bukan dipotong gaji, kalau gaji pokok tetap,” jelasnya

1 2 3 151