Tak Berani Investasi karena Takut Risiko, Ini Solusinya

Mempunyai cukup uang dan tanggungan, tapi belum berinvestasi, bisa jadi seseorang tidak siap menghadapi masa depan. Terkadang, bukan karena kurang pengetahuan, tapi takut terhadap risiko yang jadi penghalang.

“Memang, risiko itu sudah jadi bagian hidup kita. Sejak bangun pagi, keluar rumah, bekerja hingga pulang kembali, sesuatu yang tidak diharapkan bisa saja menimpa kita,” kata Assistant Vice President Head of Investment, Bancassurance, and Treasury Products, Commonwealth Bank Indonesia, Rheza Karyanto di Jakarta, Jumat 16 November 2013.

Namun, menurut dia, ada risiko yang dapat dihindari dan juga harus berani dihadapi. Berikut ini tips untuk siap menghadapi risiko.

1. Kenali profil Anda.
Setiap orang punya level aman yang berbeda-beda dalam berinvestasi. Dengan menganalisis dan mengenali profil risiko, maka seseorang bisa mengatur batas risiko yang dapat diterima dan memilih produk investasi yang membuatnya nyaman. Karena, pada akhirnya, hal yang paling penting bagi seorang investor adalah bisa tidur nyenyak di malam hari.

2. Pertimbangkan perusahaan yang sudah jelas.
Banyak jenis investasi yang menawarkan skema yang menarik, tapi ternyata tidak punya izin yang jelas. Sebelum mempertimbangkan, pastikan perusahaan yang menawarkan investasi memiliki izin usaha dari regulator. Kalau bentuknya produk keuangan, izinnya dari Otoritas Jasa Keuangan. 

Selain itu, reputasi dan rekam jejak bisa jadi acuan. Beberapa perusahaan atau produk terbaik akan memiliki sejarah penghargaan yang menunjukkan konsistensi kinerja dan keberhasilannya.

3. Ketahui sebab akibat munculnya risiko.
Setiap penjual pasti menjelaskan semua yang bagus-bagus dari produknya. Misalnya, tawaran dengan cara seperti ini: “Pak, produk ini kasih return 10 persen bulan lalu lho. Dicoba saja Pak.” 

Rheza pun mengingatkan, return dan risiko itu seperti dua mata koin yang sama. Kalau ada produk memberi return 10 persen per bulan, artinya juga bisa memiliki potensi kerugian 10 persen per bulan. 

“Jadi, bersikaplah kritis untuk cari tahu apa sebabnya. Apa penyebab kenaikan? Jika kondisi berbalik, apa risikonya?” kata dia.

Comments are closed.