Untung Rugi Mencicil Emas Dalam Pandangan Islam

PT.BESTPROFIT PEKANBARU – Sebagaimana diketahui, emas merupakan benda yang memiliki nilai tinggi sehingga dapat bermanfaat sebagai lindung nilai harta terhadap resiko inflasi. Selain itu tidak dapat dipungkiri emas sudah merupakan objek investasi sejak dahulu yang disimpan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan walaupun kebutuhan darurat. Jadi emas adalah pelindung nilai aset yang mempunyai sifat paling likuid di antara semua instrumen investasi.emas-dunia-harian130612c

Ternyata bukan cuma kendaraan, barang elektronik, atau rumah yang bisa dicicil. Kini, sudah banyak pihak yang menawarkan pembiayaan atau kredit kepemilikan emas. Pembelian aset memang bisa secara tunai atau berutang. Untuk membeli mobil yang harganya turun saja kita bisa menerima sistem cicilan, apalagi emas yang memberi bukti, secara historis, nilainya terus meningkat. Ini menjadi alasan berutang untuk mendapatkan emas menjadi dibenarkan.

Namun ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum berutang, yakni soal kemampuan keuangan dan kebutuhan. Jadi, sebelum berutang emas, sebuah keluarga harus sudah menetapkan tujuan keuangan: “Akan digunakan untuk apa emas itu?”

Dari nilai uang yang harus dikeluarkan saat ini, mencicil emas menguntungkan karena tampaknya tidak memerlukan modal besar. Dengan uang muka yang harus dikeluarkan hanya 20%-30% dari nilai kredit, maka kita sudah bisa mencicil emas yang kita inginkan. Dan bukan mustahil, kondisi pasar sedang berpihak pada kita, sehingga kita dengan mudahnya mencicil emas.

Namun, mencicil emas juga tidak lolos dari risiko. Sementara rumusan umum dari skema kredit sebenarnya adalah membayar dengan total harga lebih mahal ketimbang membeli tunai. Harga lebih mahal ini bisa dilihat dari pungutan bunga, imbal hasil, dan biaya-biaya kredit lain. Dengan skenario ini, resiko justru makin tinggi ketika harga emas sedang tiarap. Karena, tidak ada yang bisa memastikan emas selalu naik meskipun secara historis, untuk jangka panjang, harga emas tumbuh sekitar 15% per tahun.

Untuk menjadi bahan perhatian, saat Anda mencicil emas dan telah selesai melunasinya, maka ketika Anda membutuhkan uang, harga jual emas perhiasan akan dipotong harga pembuatannya. Jika tren harga emas sedang mendaki, pengurangan biaya pembuatan perhiasan mungkin bisa tertutup. Namun bayangkan jika ternyata tren harga emas sedang tiarap. Nilai investasi emas Anda bisa makin terpangkas lebih banyak lagi.

Di sisi lain, tenor mencicil yang dipatok para penjaja cicilan emas tentu beragam. Karena emas sesuai untuk pendanaan kebutuhan jangka menengah. Seseorang bisa saja memanfaatkan tenor cicilan tiga hingga lima tahun.

Seseorang yang mencicil emas harus menyadari bahwa ada biaya-biaya tambahan yang harus ia tanggung. Jika tidak mau tekor atau tak mendapat manfaat investasi setelah cicilan lunas, Anda wajib menghitung dengan cermat proyeksi imbal hasil bersih yang bisa Anda diterima. Caranya adalah dengan menghitung semua biaya, seperti bunga atau margin, biaya titip, biaya administrasi, dan biaya lain-lain yang harus dikeluarkan. Biaya-biaya itu harus dikurangkan dari proyeksi pertumbuhan harga emas selama tenor cicilan yang Anda pilih.

Selain mengambil dalam wujud fisik emas, penjaja cicilan emas juga membuka kesempatan kepada para debitur untuk mengambil nilai emas dalam uang tunai. Terhadap dua opsi ini, para perencana keuangan menyarankan agar debitur mengambil emas fisik. Dengan demikian, seseorang masih berpeluang untuk menikmati kenaikan harga emas setelah tenor mencicil berakhir atau emas telah menjadi hak miliknya.

Jadi, cara yang mana yang akan Anda akan pilih? Mencicil emas atau membeli secara tunai saja? Silakan renungkan!

Dalam pandangan Islam, emas termasuk salah satu barang ribawi yang jika dijualbelikan harus dilakukan secara kontan. Sehingga dalam aktivitas jual beli tidak boleh bertempo atau kredit. Dalil haramnya tentang ini adalah sebagaimana hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, dimana Nabi bersabda:
“Emas ditukarkan dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama takarannya dan harus dilakukan dengan kontan (yadan bi yadin). Dan jika berbeda jenis-jenisnya, maka juallah sesukamu asalkan dilakukan dengan kontan”. (Hadist Riwayat Imam Muslim).

Riwayat dari Ubadah bin Shamit, bahwa Nabi bersabda :
“Jualah emas dengan perak sesukamu, asalkan dilakukan dengan kontan”
(HR Tirmidzi).

Sementara Imam Syaukani dalam karyanya Nailul Authar, menjelaskan bahwa dengan hadis tersebut, jelas bahwa tidak boleh menjual suatu barang ribawi dengan sesama barang ribawi lainnya, kecuali secara kontan. Tidak boleh pula menjualnya secara bertempo (kredit), meskipun keduanya berbeda jenis dan ukurannya, misalnya menjual gandum dan jewawut (sya’ir), dengan emas dan perak.”

Sementara Imam Taqiyuddin an-Nabhani saat menjelaskan hadist berikut:
“Juallah emas dengan perak sesukamu, asalkan dilakukan dengan kontan”.
(HR Tirmidzi). Ia menjelaskan bahwa Nabi telah melarang menjual emas dengan mata uang perak secara utang (kredit).

Adanya dalil-dalil di atas jelas menunjukkan bahwa memperjualbelikan emas haruslah memenuhi syaratnya, dimana sarat utamanya adalah harus kontan. Hal inilah yang yang oleh para Ulama Fiqih Isalam disebut dengan “taqabudh” (serah terima dalam majelis akad) berdasarkan bunyi nash “yadan bi yadin” (dari tangan ke tangan). Dengan demikian, menjualbelikan emas secara kredit atau angsuran, melanggar persyaratan tersebut sehingga hukumnya secara syar’i adalah haram.

Sementara ada pendapat yang mengatakan bahwa emas yang dijual sekarang dibeli dengan uang kertas (fiat money; bank note), yang tidak mewakili emas. Jadi emas tersebut berarti tidak dibeli dengan sesama emas atau barang ribawi lainnya (semisal perak), sehingga hukumnya boleh karena tidak ada persyaratan harus kontan. Alasan ini berpendapat bahwa, dikarenakan yang digunakan mata uang kertas dan emas diperlakukan seperti komoditas barang, maka diperbolehkan tidak kontan.

Namun tampaknya, hal tersebut tidak dapat diterima dikarenakan uang kertas fungsinya sama dengan mata uang emas (dinar) dan mata uang perak (dirham), yaitu sebagai alat tukar untuk mengukur harga barang dan upah jasa. Oleh karena itu hukum syar’i yang berlaku pada emas dan perak juga berlaku terhadap mata uang sekarang. Seperti Abdul Qadim Zallum dalam bukunya Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, ia menuturkan:

“Uang kertas sekarang sama fungsinya dengan mata uang emas (dinar) dan mata uang perak (dirham), yaitu sebagai alat tukar untuk mengukur harga barang dan upah jasa. Maka dari itu, hukum syar’i yang berlaku pada emas dan perak berlaku juga untuk uang kertas sekarang”.

Kesimpulannya, jual beli emas secara kredit hukumnya dalam dianggap terlarang, karena emas termasuk barang ribawi yang disyaratkan harus kontan jika dijual belikan atau dipertukarkan.

Sumber : seputarforex

Comments are closed.