Virus Corona Buat Ekonomi China Anjlok Terbesar Sejak 1978

Wabah virus corona yang melanda dunia membuat perekonomian China menyusut cukup dalam untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir. Pasalnya, China menjadi episentrum penyebaran wabah tersebut.

Dikutip dari CNN, media China Caixin mengungkap Purchasing Manager Index China anjlok menjadi 26,5 dari bulan sebelumnya sebesar 51,8. Angka ini yang terendah sejak survei dimulai pada 2005.

Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi, bukan pertumbuhan.

“Ekonomi China memang sangat buruk,” kata Kit Juckes, Ahli Strategi Societe Generale.

Data tersebut berasal dari perusahaan kecil dan menengah. Sisanya dilacak dengan survei pemerintah terhadap perusahaan milik negara di sektor jasa yang dirilis pada akhir pekan.

Pabrik-pabrik China juga mencatat Februari menjadi bulan terburuk mereka. Pasalnya, perusahaan menghadapi penutupan yang lama untuk menahan penyebaran virus corona.

Perusahaan pun berjuang untuk mengisi pekerjaan karena pembatasan perjalanan.

“Wabah virus telah menempatkan pemerintah ke dalam situasi yang sulit,” kata Raymond Yeung, Kepala Ekonom ANZ China.

Menurut Yeung, di satu sisi, pembatasan tenaga kerja adalah cara paling efektif untuk mencegah penyebaran virus. Di sisi lain, langkah-langkah kesehatan menghambat kegiatan ekonomi.

Gambaran perekonomian tersebut diperkuat oleh data perusahaan besar. Pembuat bir terbesar di dunia, ABInBev (BUD) mengatakan telah kehilangan pendapatan sebesar US$285 juta sepanjang Januari dan Februari di China.

Sementara produsen iPhone, Foxconn mengatakan pihaknya tidak mengharapkan produksi kembali normal sampai akhir Maret. Kepala Ekonom Macquarie Group China Larry Hu menyarankan bahwa negara itu dapat mengalami penurunan ekonomi bersejarah.

Data menunjukkan bahwa semuanya benar-benar buruk dan pemerintah bersedia melaporkannya. Hu memperkirakan pertumbuhan kuartal pertama diprediksi jauh di bawah estimasi awal. Saat ini estimasi berada di kisaran 4 persen. Turun dari 6 persen pada kuartal IV 2019.

“Bahkan mungkin bahwa pemerintah akan melaporkan pertumbuhan negatif untuk (kuartal pertama), pertama kalinya sejak akhir Revolusi Kebudayaan,” tambahnya.

Ekonomi China mengalami kontraksi 1,6 persen pada 1976. Saat itu, kematian pemimpin Partai Komunis Mao Zedong mengakhiri satu dekade panjang kerusuhan sosial dan politik di negara itu. Sejak itu, ekonomi China telah mengalami booming dan terus tumbuh dengan rata-rata 9,4 persen per tahun dari mulai 1978 hingga 2018.

Hu menulis bahwa China kemungkinan akan memberlakukan lebih banyak langkah kebijakan untuk membantu perekonomian. Namun, dia menambahkan bahwa terlalu dini untuk mengharapkan paket stimulus besar dari Beijing.

“Dua minggu ke depan akan sangat penting untuk melacak jalur kasus virus corona baru yang dikonfirmasi dan laju normalisasi ekonomi,” tulis Ning Zhang dan Tao Wang, ekonom UBS.

Data baru-baru ini menunjukkan bahwa upaya Beijing untuk meningkatkan lapangan kerja tahun ini dalam bahaya. Sektor jasa China mewakili sekitar 360 juta pekerjaan dan menyumbang 46 dari pasar tenaga kerja, menjadikannya sumber pekerjaan terbesar di negara itu.

Comments are closed.